Rabu, 24 Juni 2015

Anak Buruh Miskin, Devi Lulusan dengan IPK 3,99

SOLO, (PRLM).- Nama Devi Triasari yang tertulis di ijazahnya, barangkali tidak mengesankan bahwa si pemilik nama hanyalah seorang gadis anak keluarga kurang mampu asal kota kecil Ngawi, Jawa Timur. Namun gadis hitam manis kelahiran 19 Desember 1991 itu, tidak mau kalah dari anak-anak orang berada dan dia memiliki prestasi seindah namanya.
Betapa tidak. Devi Triasari yang secara ekonomi serba dalam keterbatasan dan datang dari keluarga miskin di pedesaan, berhasil menorehkan prestasi luar biasa.
Dia menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (FH-UNS) Solo, dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) nyaris sempurna, yaitu 3,99 hanya dalam waktu 3,5 tahun.
Berkat prestasi akademik setinggi itu untuk ukuran seorang mahasiswa strata satu, Devi Triasari layak menyandang predikat sebagai sarjana lulusan terbaik dan dengan masa studi tercepat.
Padahal, sosok intektual muda harapan masa depan itu, awalnya bukan berasal dari SMA yang memang bercita-cita meneruskan kuliah di universitas.
Sewaktu mendaftar di UNS, dia merupakan salah seorang calon mahasiswa yang berbekal ijazah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri I Ngawi.
"Saya lulus dari SMK Negeri 1 Ngawi tahun 2010. Tapi saya tidak langsung melanjutkan kuliah, karena bapak dan ibu saya tidak mampu membayar biaya kuliah. Sejak lulus SMK saya mendapat pekerjaan di bagian administrasi sebuah perusahaan kontraktor di Magetan. Selama setahun lebih saya bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Karena bapak saya hanya sebagai buruh dan ibu pembantu rumah tangga," ujarnya Devi lugu, didampingi ibunya, Ny. Karinem, seusai wisuda sarjana UNS, pekan lalu.
Dalam serba keterbatasan, Devi Triasari tetap menjaga semangatnya untuk dapat melanjutkan kuliah. Sambil bekerja itu, Devi bahkan menyatakan tetap memupuk keinginan besar untuk mengangkat derajat kehidupan keluarganya.
"Saya berpikir, untuk mengubah kehidupan kami yang serba terbatas perlu pendidikan tinggi. Akhirnya, setahun berikutnya saya mencoba mencari tempat kuliah yang tanpa mengeluarkan biaya. Kebetulan waktu itu ada pembukaan pendaftaran beasiswa Sampoerna dan saya pun mendaftar. Di luar dugaan, saya termasuk yang diterima, tapi akhirnya saya memutuskan tidak mengambilnya. Saya tetap pada keinginan kuliah dan saya mendaftar ke UNS melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) pada tahun 2011. Saya lulus dan diterima di Fakultas Hukum," tutur Devi dengan bahasa yang tertata. (Tok Suwarto/A-88)***
Selengkapnya...

Murid Lebih Cerdas di Sekolah yang Hijau

PRLM - Ingin mempunyai anak yang lebih pintar? Tanamlah lebih banyak pohon, rumput, dan belukar.
Penelitian baru dalam Proceedings of the National Academy of Sciences mengatakan murid-murid sekolah dasar yang belajar di sekolah-sekolah yang dikelilingi lingkungan hijau memiliki fokus dan daya ingat yang lebih baik daripada anak-anak yang belajar di lingkungan yang kurang ada tumbuhan.
Penelitian itu dilakukan terhadap 2.000 siswa berusia antara 7 dan 10 tahun di Barcelona, Spanyol.
Para pakar mengatakan penyebabnya adalah lebih sedikitnya kendaraan dan polusi, baik udara maupun suara, di sekitar sekolah, dan bahwa taman-taman dan lapangan rumput mendorong kegiatan fisik yang lebih banyak. (voa/A-88)***
Selengkapnya...

Selasa, 23 Juni 2015

Mahasiswa FKIP Unswagati yang lolos seleksi SM3T angkatan V tahun 2015

Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia
  1. Bambang Tori 110050030
  2. Elen Elinda 110050085
  3. Khomairoh 110050086
  4. Ali 110050109 5
  5. Okhy Arief Wahyudin 110050117
  6. Muhammad Saddam Husein 110050145
  7. Ono Darsono Dahuri 110050163
  8. Saeful Mustakim 110050212
  9. Mohammad Yazid Ruqash 110050213
Prodi Pendidikan Bahasa Inggris
  1. Gesty Vriska Septianita 110060349
  2. Umarah Muhadharah 110060449
  3. Riri Rismayantini 110060522
  4. Mia Amaliah 110060545
Prodi Pendidikan Matematika
  1. Susi Susanti 109070111
  2. Tri Kurnia Wulandari 109070125
  3. Asep Abdul Rohman 110070145
  4. Lian Yustriatin 110070189
  5. Erlita Wuryandari 109070201
  6. Astri Fitria Nur’ani 110070211
  7. Winda Indriani Nurillah 110070213
  8. Ikin Sodikin 110070216
  9. Lia Meilani 110070221
  10. Wahyuni Miftahani 110070277

Tahap Selanjutnya
20 – 23 Juni 2015 Tes Online di UPI
27 Juni 2015 Pengumuman hasil tes seleksi dan undangan wawancara di LPTK
3 – 5 Juli 2015 Seleksi Wawancara di LPTK dan prakondisi
Selengkapnya...

Jumat, 19 Juni 2015

4 Cara Ayah Bantu Kesuksesan Anak Perempuan di Masa Depan

KOMPAS.com - Selain ibu, peran ayah pun sangat diperlukan dalam pengasuhan anak. Sebab, sosok seorang ayah ternyata mampu membentuk karakter anak di masa depan saat ia beranjak dewasa nanti, khususnya anak perempuan. Berikut adalah empat perilaku seorang ayah yang mampu membantu kesuksesan anak perempuannya di masa mendatang. 

1. Citra tubuh
Sebuah studi yang dilakukan pada bulan Januari 2015 lalu menemukan bahwa anak-anak perempuan yang memiliki hubungan yang penuh kasih sayang, kepedulian, dan persahabatan dengan sang ayah, memiliki pandangan yang lebih sehat tentang makanan. 

Tidak hanya itu, anak-anak perempuan tersebut juga ternyata memiliki kepercayaan diri yang lebih baik. Sehingga, mereka pun memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk menderita gangguan makan ketimbang anak-anak perempuan yang memiliki hubungan yang kurang baik dengan sang ayah.

2. Kehidupan sosial 
Studi yang dipublikasikan pada jurnal Fathering menemukan bahwa anak-anak perempuan yang menikmati interaksi positif dan hangat bersama sang ayah pada usia kanak-kanak, terbukti memiliki kemampuan interpersonal yang lebih baik. 

Mengapa demikian? Para peneliti menemukan bahwa kecenderungan ini terjadi karena para ayah yang senantiasa menjaga tingkat kebahagiaan buah hati mereka ternyata mengajarkan rasa empati dan resiproksitas (reaksi terhadap teman) pada anak mereka. 

3. Kecerdasan
Sebuah riset yang dipublikasikan pada jurnal Evolution and Human Behavior menemukan bahwa melakukan aktivitas yang menstimulasi mental bersama ayah, seperti membaca, pergi ke museum, dan bermain dikaitkan dengan anak yang memperoleh tingkat kecerdasan lebih tinggi saat usia 11 tahun dan mampu bertahan hingga 42 tahun. Selama menikmati waktu bersama anak, ayah bisa membagi pengetahuannya kepada anak, sehingga membuat anak menjadi lebih cerdas.

4. Karier
Ternyata, tanpa disadari ayah pun berperan dalam karier anak perempuannya. Sebuah studi yang dipublikasikan pada jurnalPsychological Science menyebut bahwa anak perempuan yang tumbuh menyaksikan ayah membagi pekerjaan domestik dengan ibu cenderung memiliki tujuan karier yang lebuh tinggi dan menurunkan stereotip jender.
Penulis: Sakina Rakhma Diah Setiawan
Editor: Alvin Dwipayana
Sumberwomens health mag
Selengkapnya...